//
you're reading...
Philosophy

Sofisme: Antara Uang dan Kebebasan

Yunani sejak masa sebelum masehi telah diketahui melahirkan berbagai filosof yang mengembangkan pemikiran filsafat yang beragam pula. Berbagai filosof tersebut mendasarkan dan menggunakan pemikirannya pada berbagai macam hal, baik dalam sistem politik, ekonomi, hingga pendidikan. Pemikiran-pemikiran tersebut muncul dan berkembang berdasarkan logos, rasio pikiran yang mendasarkan diri pada sikap ingin tahu. Sikap ini juga menunjukkan beranjaknya pikiran dari kepatuhan terhadap kepercayaan terhadap mitos ke kemunculan pikiran manusia sebagai inti penting dari suatu pengetahuan.

Sekitar abad ke-5 SM, Athena berkembang sebagai polis tempat pusat kebudayaan Yunani di bawah kepemimpinan politik Perikles. Perkembangan ini pun turut memfasilitasi para filosof untuk mengembangkan serta memraktekkan pemikirannya dengan sedemikian cara. Salah satu dari filosof itu adalah para Sofis, diambil dari kata sophistes yang berarti profesor atau guru[1]. Kaum ini berkembang di Athena sebagai para profesional kebijaksanaan; pemikir yang hebat namun meminta upah bayaran dari pengetahuan yang diberikan. Sejarah mencatat beberapa Sofis yang terkenal yaitu Protagoras, Gorgias, Prodicus, Hippias, Antiphon, Thrasymakhos, dan Callices. Para filosof tersebut masuk ke dalam periode Pra-Sokratik, bukan karena hidup di zaman sebelum Sokrates (karena ada yang hidup semasa Sokrates), melainkan pemikirannya berbeda dengan Sokrates itu sendiri.

 

Sofisme dan Komodifikasi Pengetahuan

Para Sofis lebih dikenal sebagai kaum yang melakukan komodifikasi[2] atas pengetahuan. Mereka menetapkan sebuah sistem berbayar atas pengetahuan dengan menjadikannya sebuah komoditas ekonomi. Pada masa di Athena saat itu, situasi ekonomi memang sulit namun kesempatan untuk mengembangkan diri sangat terbuka luas. Hal inilah yang mendorong para Sofis untuk bergerak menjual pengetahuan mereka demi uang. Mereka bergerak secara profesional dengan fokus pada orang-orang kaya yang tentunya mampu membayar mereka atas masukan-masukan filsafat dan pengetahuan yang diberikan. Hal ini pula yang kemudian menjustifikasi kaum Sofis sebagai pembela orang-orang pemilik uang, karena mereka hidup bergantung dari uang yang diberi sebagai upah atas kerja keras pembelaan mereka kepada orang-orang kaya. Para Sofis dipandang sebagai pendukung kaum kaya dan penekan kaum miskin melalui transaksi pengetahuan yang dilakukannya, atau disebut dengan hoodwink the poor while milking the rich[3] dengan menipu kaum lain untuk mendapatkan keuntungan dari kaum tertentu.

Para Sofis melihat filsafat sebagai suatu obyek mata pencaharian, sedangkan filsafat pada dasarnya bertumpu pada pemenuhan hasrat manusia untuk mencari tahu kebenaran dengan pengembangan pengetahuan. Hal inilah yang menjadi sebuah kejanggalan sekaligus sebuah pembaruan, yaitu ketika pikiran manusia atas pengetahuan dijual sebagai suatu komoditas ekonomi yang mahal. Pengetahuan manusia didapatkan secara cuma-cuma melalui pemikiran, sehingga hal tersebut seharusnya juga diberikan dengan cuma-cuma, bukan dijual demi suatu nominal uang tertentu. Selain itu, ketika filsafat menjadi sebuah obyek mata pencaharian, hal tersebut akan cenderung mengarah pada suatu tendensi tertentu, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial. Pengetahuan kemudian digerakkan oleh para Sofis sebagai spin doctors[4] berdasarkan suatu permintaan tertentu. Filsafat dilihat sebagai sesuatu yang abstrak, bukan terwujud dalam suatu bentuk tertentu. Maka, jika filsafat telah berwujud, hal ini tentu akan mempengaruhi esensi dari filsafat itu sendiri, karena secara normal, eksistensi permukaan dari filsafat itu sangat mempengaruhi esensi terdalam pemikiran tersebut. Perkembangan filsafat pun akan cenderung dipengaruhi oleh permintaan pasar. Pengetahuan dilihat sebagai komoditas yang digerakan oleh permintaan dan penawaran yang tentunya juga akan mengekang pertumbuhan filsafat itu sendiri. Filsafat tidak kemudian tumbuh sebagai suatu hal yang abstrak, melainkan diperjualbelikan sebagai suatu benda layaknya dalam transaksi perdagangan, terutama terkait aspek permintaan pengetahuan maupun penawaran yang menjaganya tetap dikenal dan “disewa” oleh kaum kaya.

Pengetahuan bagi kaum Sofis adalah sesuatu yang diproduksi untuk dipergunakan secara praktis dalam kehidupan manusia. Mereka memberikan pengetahuan melalui pendidikan yang akademis, baik melalui pendidikan privat yang mahal maupun pemenangan sebuah kasus di pengadilan. Para Sofis memberikan pengetahuan bukan mengenai benar atau salah, tapi mereka berfokus pada tujuan utama untuk memuaskan hati konsumen. Para murid kaum Sofis pun datang dengan berbagai masalah mulai dari masalah plitik, hukum, retorika, hingga ilmu alam, dan tidak ada yang tidak bisa diselesaikan oleh kaum Sofis asalkan upahnya setimpal. Para Sofis pun dibenci oleh filosof lain karena mereka merusak logika dan mendorong orang untuk bernalar salah dengan melanggar etika.[5] Mereka berpikir bukan karena mereka mau, tapi lebih pada pengambilan keuntungan atas berbagai tren yang sedang terjadi. Dengan kata lain, para Sofis menjual kebenaran dengan berfokus hanya pematahan argumentasi-argumentasi dengan berbasis pada ide bahwa mengalahkan musuh adalah hal yang utama meskipun harus mengandalkan cara apapun.[6] Argumentas-argumentasi tersebut adalah hal yang paling penting, terutama dalam membela sebuah kasus di pengadilan.

Para Sofis dikatakan sebagai kaum yang berbeda dengan filosof pada umumnya, bukan hanya karena mereka berkeliling untuk mengajar, melainkan juga karena mereka menipu orang lain dengan memakai alasan-alasan yang tidak sah. Alasan-alasan ini kemudian menggiring opini publik ke arah yang salah dan cenderung tidak bebas karena telah dikonstruksi sedemikian rupa oleh para Sofis yang berpihak pada suatu kaum tertentu.[7] Selain karena pemihakan, perbedaan logika pun muncul dan berkembang di antara sofis dan filosof, baik dalam pembelaan di mata hukum, eksploitasi retorika dalam politik, hingga degradasi moral dan norma di ranah masyarakat. Oleh karena itu, para Sofis adalah kaum berpikir yang memutarbalikkan fakta untuk kepentingan diri mereka sendiri dengan meminta bayaran atas keterpihakannya pada suatu kelompok tertentu.

 

Sofisme dan Kebebasan atas Kebenaran Pengetahuan

Di satu sisi, para Sofis menyalahi aturan logika dan etika sebagai seorang filosof, namun di sisi lain, pemikiran para Sofis merupakan hal yang penting untuk dilihat sebagai suatu kebebasan dalam mendapatkan kebenaran. Mereka tidak lagi mengaji berbagai mitos yang ada di luar pikiran manusia, tetapi lebih mengeksplorasi kebebasan pikiran manusia dalam bersikap dan bertindak. Oleh karena itu, pusat pemikiran dari para Sofis adalah manusia itu sendiri. Manusia yang berpikir, bersikap, bertindak, maupun menerima akibat atas hal-hal yang telah dilakukannya.

Pemikiran Protagoras adalah tonggak penting para Sofis, terutama ketika ia mengemukakan bahwa manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dan yang tidak ada.[8] Melalui pengandalan pada penguasaan bahasa dan logika dalam sebuah retorika, segala hal pada dasarnya relatif dan tidak bisa diputuskan benar atau salah karena hal tersebut berasal dari manusia dan diputuskan oleh manusia itu sendiri. Selain Protagoras, Gorgias cenderung menekankan pada aspek performativitas bahasa, hal inilah yang menyatakan kondisi ada, tidak ada, salah, maupun benar sekalipun.[9] Antiphon kemudian lebih melihat pada hukum positif sebagai suatu hal yang membatasi kodrat kebebasan manusia. Hal ini senada dengan pemikiran Thrasymakhos bahwa hukum positif hanya akan menciptakan dominasi yang kuat terhadap yang lemah karena tidak semua kepentingan manusia diakomodasi di dalam hukum tersebut. Sebagai akibatnya, moral dan norma pun hanyalah sebuah kesepakatan yang cenderung menganeksasi kebebasan orang lain secara khusus dan manusia pada umumnya.

Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian menunjukkan bahwa para Sofis bertumpu pada relativitas kebebasan manusia. Manusia adalah makhluk yang mampu berpikir atas dirinya sendiri. Manusia pula yang menciptakan kesempatan-kesempatan dalam kehidupan. Dengan demikian, para Sofis bukan hanya menciptakan kesempatan dalam ekploitasi filsafat dalam mendapatkan uang, namun juga melambangkan bahwa manusia memiliki berbagai pilihan untuk hidup dan berkembang sesuai dengan kehendak mereka. Pilihan-pilihan tersebut ada dikarenakan oleh keinginan manusia itu sendiri karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tanpa label apapun, bahwa segala hal hanyalah merupakan interpretasi atas sesuatu. Pada dasarnya, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan kesempatan sesuai dengan pengetahuan yang ia dapatkan, ia tidak perlu melihat pada aspek benar atau salah karena itu hanyalah interpretasi belaka. Memang demikian nature pemikiran manusia yang sesungguhnya, berbagai aspek moral dan norma hanyalah pembatas bagi kebebasannya tersebut. Moral dan norma tidak selamanya menjadi sesuatu yang baik, keduanya bahkan sering berbenturan satu sama lain yang malahan semakin menggerus hakikat kebebasan manusia itu sendiri.

Antiphon melihat pandangan bahwa manusia dipandang baik tidak semata-mata merupakan nature dari manusia itu sendiri.[10] Manusia dipandang baik karena adanya struktur norma di masyarakat yang mengatakan sesuatu itu baik, dan bukan muncul dari manusia itu sendiri. Norma menyatakan “sesuatu yang seharusnya” dan “sesuatu yang tidak seharusnya” yang malahan membatasi manusia ke dalam konstruksi pemikiran yang memicu ketergantungan kepada manusia yang lainnya. Oleh karena itu, relativitas menjadi kunci dalam kebebasan manusia itu sendiri, baik dalam mengidentifikasi internal kebebasan itu sendiri maupun dalam mengakomodasi aspek eksternal yang mungkin membentuk maupun menggerus kebebasan tersebut. Pengetahuan yang ada pun demikian, ia tidak bisa dilabeli dengan predikat benar atau salah, karena pada dasarnya interpretasi manusia itu sendiri yang memainkan peran dalam penetapan atas suatu kebenaran maupun kesalahan.

 

Sofisme: Kesalahan yang Benar

Sofisme dipandang sebagai kaum yang tidak benar karena melanggar etika dan moral. Selain itu, mereka juga dianggap menggunakan kebebasan dengan cara yang salah demi kepentingan mereka sendiri. Dengan melakukan komodifikasi atas pengetahuan kepada kaum kaya, para Sofis mendapatkan uang untuk hidup. Para Sofis membantu memenangkan perkara di pengadilan dengan menjungkirbalikkan fakta-fakta tanpa menghiraukan norma yang ada. Mereka mengeksploitasi sumber-sumber pengetahuan baik dari bahasa, retorika, maupun logika untuk mendapatkan uang dari filsafat sebagai mata pencaharian mereka.

Di sisi lain, pemikiran para Sofis dapat dikatakan benar karena ia mengakomodasi kebebasan manusia demi kepentingan manusia itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia adalah pusat pemikiran filsafat itu sendiri. Manusia berpikir dari dalam dirinya sendiri, bukan dari luar dirinya sendiri, dan manusia menyadari itu. Para Sofisme dianggap salah karena menyalahi etika dan logika yang ada, namun pemikirannya tetap dianggap sebagai filsafat karena interpretasi tentang kebebasan manusia. Kebebasan manusia menurut para Sofis dibentuk oleh dirinya sendiri, bukan oleh hukum maupun moral yang hanya dianggap sebagai sebuah konvensi belaka. Pemikiran para Sofis dianggap benar ketika itu dipikirkan secara abstrak, namun seketika itu juga menjadi salah ketika memasuki ranah praktis kehidupan manusia.

 

Referensi:

Hadiwijono, Harun, 1994, Sari Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius.

Osborne, Catherine, 2004, Presocratic Philosophy: A Very Short Introduction, New York: Oxford UP.

Tim Penulis Rosda, 1995, Kamus Filsafat, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wibowo, A. Setyo, nd, Sokrates dan Keriuhan Politik di Athena, disampaikan pada Kuliah Matrikulasi STF Driyarkara tanggal 4 September 2012.

 

 


[1] Tim Penulis Rosda, 1995, Kamus Filsafat, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hal. 312.

[2] Proses dari sesuatu yang bersifat umum menjadi sesuatu yang bernilai-jual.

[3] Catherine Osborne, 2004, Presocratic Philosophy: A Very Short Introduction, New York: Oxford University Press, hal. 114.

[4] Ibid.

[5] Tim Penulis Rosda, Op. Cit., hal. 313.

[6] Ibid.

[7] Osborne, Op. Cit., hal. 114.

[8] Harun Hadiwijono, 1994, Sari Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius, hal. 33.

[9] A. Setyo Wibowo, nd, Sokrates dan Keriuhan Politik di Athena, disampaikan pada Kuliah Matrikulasi STF Driyarkara tanggal 4 September 2012, hal. 4.

[10] Osborne, Op. Cit., hal. 120.

About rommelpasopati

common people with different uniqueness... ask me to be beyond and nihil... find me in your dreams...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: